Rabu, 25 April 2012

Pendekatan PAIKEM


BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan matematika merupakan bagian yang integral dari pendidikan nasional. Hal ini disebabkan karena matematika merupakan salah satu komponen penting dalam rangka peningkatan sumber daya manusia. Oleh sebab itu, pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional menetapkan matematika sebagai salah satu pelajaran wajib pada setiap jenis dan jenjang pendidikan formal.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting diajarkan pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dalam pedoman penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama dijelaskan tujuan pengajaran matematika pada pendidikan dasar ( Depdiknas, 2006:8) antara lain agar siswa memahami konsep matematika secara luwes, akurat, efesiarn, dan tepat serta memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu atau kritis, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya sendiri dalam pemecahan masalah.
Pada umumnya ilmu matematika dikalangan masyarakat khusus peserta didik, kurang diminati artinya matematika merupakan pelajaran menakutkan. Padahal kalau ditinjau lebih jauh lagi matematika merupakan ilmu yang mengasyikkan, karena didalamnya mengandung teka-teki yang perlu kita pecahkan. Sikap tidak menyukai Matematika merupakan salah satu hambatan untuk belajar Matematika yang efektif (Hudoyo, 1990;90).
Dalam pembelajaran matematika memerlukan tahap-tahap yang hierarkis, yakni bentuk belajar yang terstruktur dan terencana berdasarkan pada pengetahuan dan latihan sebelumnya, yang menjadi dasar untuk mempelajari materi selanjutnya. Misalnya untuk memahami system persamaan linier dua peubah siswa terlebih dahulu memahami konsep system persamaan linier satu varabel. Begitu pula untuk memahami topik soal cerita pada system persamaan dua varabel, siswa harus menguasai dahulu konsep persamaan linier dua variabel.
Sistem persamaan linier dua varibel merupakan salah satu pokok bahasan di kelas VIII SMP. Salah satu bagian penting dalam materi ini menyangkut soal cerita, yaitu suatu permasalahan matematika yang disajikan dalam bentuk kalimat, dan biasanya berhubungan dengan masalah sehari-hari. Oleh karena itu, sangat penting bagi siswa memahami soal cerita pada SPLDV. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan penilaian akademik oleh guru tetapi juga permasalahan ini sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Akan tetapi berdasarkan informasi dari guru matematika di SMPN 3 Moramo, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita pada SPLDV tersebut. Informasi ini didasarkan pada hasil ulangan harian yang telah dilakukan, yaitu hanya 37,5 % dari 40 siswa yang mencapai tingkat ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 53.
Berdasarkan pengamatan yang telah ada,  menunjukkan bahwa siswa kurang memahami materii yang diajarkan guru dan   mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika khususnya yang berbentuk soal cerita.
Berdasarkan permasalahan tersebut penulis menawarkan solusi untuk menerapkan pembelajaran matematika dengan pendekatan Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan pada materi  SPLDV. Dengan harapan agar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita yang menyangkut SPLDV.

B.     Identifikasi Faktor Penyebab Masalah
Menurut Kaplan, gangguan matematika dapat diklasifikasikan menjadi
empat ketrampilan, yaitu ketrampilan linguistik (yang berhubungan
dengan mengerti istilah matematika dan mengubah masalah tertulis
menjadi simbol matematika), ketrampilan perseptual (kemampuan
mengenali, mengerti simbol dan mengurutkan kelompok angka),
ketrampilan matematika (penambahan, pengurangan, perkalian, dan
pembagian), ketrampilan atensional (menyalin angka dengan benar dan
mengamati simbol operasional dengan benar).
Berdasarkan penelitian, faktor-faktor penyebab kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika khususnya mengenai SPLDV adalah sebagai berikut.
1.            Kurangnya kemampuan verbal sehingga menyebabkan siswa kurang
paham terhadap permintaan soal. Yang dimaksud kurang paham terhadap permintaan soal adalah siswa tidak tahu yang akan dia kerjakan setelah memperoleh
informasi dari soal namun terkadang siswa juga tidak tahu apa
informasi yang berguna dari soal karena terjadi salah penafsiran.
2.            Kurangnya pemahaman siswa terhadap materi prasyarat baik sifat,
rumus dan prosedur pengerjaan.
3.            Kebiasaan siswa dalam menyelesaikan soal cerita misalnya siswa tidak
mengembalikan jawaban model menjadi jawaban permasalahan.
4.            Kurangnya minat terhadap pelajaran matematika atau ketidakseriusan
siswa dalam mengikuti pelajaran.
5.            Strategi/metode pembelajaran yang kurang tepat.

C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi permasalahan masalah tersebut diperoleh rumusan masalah sebagai berikut.
1.      Bagaimanakah tindakan yang tepat bagi seorang guru untuk mengatasi kurangnya kemampuan verbal yang menyebabkan siswa kurang paham terhadap permintaan soal ?
2.      Bagaimana menumbuhkan kebiasaan baru bagi siswa untuk menyelesaiakn soal cerita secara tepat ?
3.      Bagaimanakah metode pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memahami materi pelajaran matematika dan menarik minat siswa, khususnya mengenai SPLDV?











BAB II PEMBAHASAN

A.       Pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Menyenangkan (PAIKEM)
Proses belajar mengajar merupakan sebuah proses interaksi yang menghimpun sejumlah nilai (norma) yang merupakan substansi, sebagai medium antara guru dan siswa dalam rangka mencapai tujuan. Dalam proses belajar mengajar terdapat dua kegiatan yakni kegiatan guru dan kegiatan siswa. Guru mengajar dengan gayanya sendiri dan siswa juga belajar dengan gayanya sendiri. Sebagai guru, tugasnya tidak hanya mengajar tetapi juga belajar memahami suasana psikologis siswanya dan kondisi kelas. Dalam mengajar, guru harus memahami gaya-gaya belajar siswanya sehingga kerelavansian antara gaya-gaya mengajar guru dan siswa akan memudahkan guru menciptakan interaksi edukatif dan kondusif. Hal ini sejalan dengan pendapat Ametembun (1985) bahwa suatu interaksi yang harmonis terjadi bila dalam prosesnya tercipta keselarasan, keseimbangan, keserasian antara kedua komponen yaitu guru dan siswa.
Dalam proses edukatif guru harus berusaha agar siswanya aktif dan kreatif secara optimal. Guru tidak harus terlena dengan menerapkan gaya konvensional. Karena gaya mengajar seperti ini tidak sesuai dengan konsepsi pendidikan modern. Pendidikan modern menghendaki siswa lebih aktif dalam kegiatan interaktif edukatif. Guru bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing sedangkan siswa aktif dalam belajar.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan guru dalam proses belajar mengajar seperti memahami prinsip-prinsip proses belajar mengajar, menyiapkan bahan dan sumber belajar, memilih metode yang tepat, menyiapkan alat bantu pengajaran, memilih pendekatan, dan mengadakan evaluasi. Semua kegiatan yang dilakukan guru harus didekati dengan pendekatan sistem, Sebab pengajaran adalah suatu sistem yang melibatkan sejumlah kompenen pengajaaran dan semua komponen tersebut saling berkaitan dan saling menunjang dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.
Salah satu pendekatan yang bisa diterapkan oleh guru selaku pendidik adalah pendekatan PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan). Aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan merupakan merupakan salah satu model pembelajaran yang ideal. Dengan pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM), siswa dapat mendapatkan ide-ide sendiri dalam pembelajaran berlangsung dengan pendekatan lingkungan sekitar. Begitu pula guru dengan berbagai ide segar dan menarik yang dilengkapi dengan contoh praktis untuk diterapkan dalam pembelajaran. Pemahaman mengenai PAIKEM ini diharapkan dapat membantu guru memfasilitasi pembelajaran siswa dengan lebih bermakna. Meskipun yang diharapkan pertama dan utama adalah keaktifan dan kekreatifitasan peserta didik, namun sebenarnya guru pun dituntut untuk aktif dan kreatif. Agar pembelajaran model ini dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, sudah tentu guru harus merancang pembelajaran dengan baik, melaksanakannya, dan akhirnya menilai hasilnya.
Hal tersebut sesuai dengan implementasi dari kurikulum KTSP yang diterapkan saat ini di setiap tingkat satuan pendidikan. Implementasi dari KTSP tersebut membutuhkan penciptaan  iklim pendidikan yang memungkinkan tumbuhnya semangat intelektual dan ilmiah bagi setiap guru selaku pendidik serta menuntut mereka agar melakukan upaya-upaya kreatif serta inovatif dalam menerapkan  berbagai model pembelajaran.
Muhibin Syah ( 2009) dalam makalah PLPG yang berjudul Bahan Pelatihan PAIKEM, memberikan pengertian tentang PAIKEM yaitu bahwa PAIKEM dapat didefinisikan sebagai suatu model pendekatan mengajar (approach to teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan dengan berbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi partisipatif, aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Dengan demikian, para siswa merasa tertarik dan mudah menyerap pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan.
Selain itu, PAIKEM juga memungkinkan siwa melakukan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan sikap, pemahaman, dan keterampilannya sendiri dalam arti tidak semata-mata disuapi guru. Artinya pembelajaran dengan pendekatan PAIKEM mengutamakan proses pembelajaran yang bersifat student center. Student center mengandung pengertian pembelajaran menerapkan strategi pedagogi mengorientasikan siswa kepada situasi yang bermakna, kontekstual, dunia nyata dan menyediakan sumber belajar, bimbingan, petunjuk bagi pembelajar ketika mereka mengembangkan pengetahuan tentang materi pelajaran yang dipelajarinya sekaligus keterampilan memecahkan masalah. Paradigma yang menempatkan guru sebagai pusat pembelajaran (teacher center) dan siswa sebagai objek, seharusnya diubah dengan menempatkan siswa sebagai subjek yang belajar secara aktif membangun pemahamannya (Learning) dengan jalan merangkai pengalaman yang telah dimiliki dengan pengalaman baru yang dijumpai. Pengalaman nyata dari lingkungan sekitar menunjukkan bahwa minat dan prestasi siswa dalam bidang sains meningkat secara drastis pada saat mereka dibantu untuk membangun keterkaitan antar  informasi (pengetahuan) baru dengan pengalaman (pengetahuan lain) yang telah mereka miliki atau mereka kuasai.
Pembelajaran hendaknya dimulai dari masalah-masalah aktual, otentik, relevan dan bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang berbasis subjek seringkali tidak relevan dan tidak bermakna bagi siswa sehingga tidak menarik perhatian siswa. Pembelajaran yang dibangun berdasarkan subjek seringkali terlepas dari kejadian aktual di masyarakat. Akibatnya siswa tidak dapat menerapkan konsep/teori yang dipelajarinya di dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dengan pembelajaran yang dimulai dari masalah maka siswa belajar suatu konsep atau teori dan prinsip sekaligus memecahkan masalah. Dengan demikian sekurang-kurangnya ada dua hasil belajar yang dicapai, yaitu jawaban terhadap masalah (Produk) dan cara memecahkan masalah (proses).
Kemampuan tentang pemecahan masalah lebih dari sekedar akumulasi pengetahuan dan hukum/teori, tetapi merupakan perkembangan kemampuan fleksibilitas, strategi kognitif yang membantu mereka menganalisis situasi tak terduga dan mampu menghasilkan solusi yang bermakna.
Pendekatan pembelajran PAIKEM ini merupakan trend pembelajaran saat ini. Pembelajaran dengan pendekatan ini dapat dilakukan dengan menerapkan berbagai metode pembelajaran dan dapat dilakukan dengan menerapkan berabagai alat bantu yang tersedia.
Sesuai dengan huruf yang menyusun namanya, pembelajaran dengan pemdekatan PAIKEM adalah salah satu contoh pembelajaran inovatif yang memiliki karakteristik aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai karakteristik tersebut.
1.         Aktif
Secara harfiah active artinya: ”in the habit of doing things, energetic” (Hornby, 1994:12), artinya terbiasa berbuat segala hal dengan menggunakan segala daya. Keaktifan merupakan kegiatan yang melibatkan aktivitas mental dan fisik, serta adanya interaksi antar siswa maupun siswa dengan guru dalam proses pembelajaran (http// www. Upi. ac. id.UT, 1998).
Pembelajaran yang aktif berarti pembelajaran yang memerlukan keaktifan  semua siswa dan guru secara fisik, mental, emosional, bahkan moral dan spiritual. Guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, membangun gagasan, dan melakukan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman langsung, sehingga belajar merupakan proses aktif siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri. Dengan demikian, siswa didorong untuk  bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.
Menurut Taslimuharrom (2008), seperti yang dikutip oleh Muhibin Syah, menyatakan bahwa dalam  sebuah proses belajar dikatakan aktif (active learning) apabila mengandung:
1)      Keterlekatan pada tugas (Commitment)
Dalam hal ini, materi, metode, dan strategi pembelajaran hendaknya bermanfaat bagi siswa (meaningful), sesuai dengan kebutuhan siswa (relevant), dan bersifat atau memiliki keterkaitan dengan kepentingan pribadi (personal).
2)  Tanggung jawab (Responsibility)
Sebuah proses pembelajaran perlu memberikan wewenang kepada siswa untuk berpikir kritis secara bertanggung jawab, sedangkan guru lebih banyak mendengar dan menghormati ide-ide siswa, serta memberikan pilihan dan peluang kepada siswa untuk mengambil keputusan sendiri.
3)  Motivasi (Motivation)
Proses belajar hendaknya lebih mengembangkan motivasi intrinsik siswa. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Dalam perspektif psikologi kognitif, motivasi yang lebih signifikan bagi siswa adalah motivasi intrinsik (bukan ekstrinsik) karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergan­tung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Dorongan mencapai prestasi dan memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan, umpamanya, memberi pengaruh lebih kuat dan relatif lebih lang­geng diban­dingkan dengan dorongan hadiah atau dorongan keharusan dari orangtua dan guru.
Motivasi belajar siswa akan meningkat  apabila ditunjang oleh pendekatan yang lebih berpusat pada siswa (student centered learning). Guru mendorong siswa untuk aktif mencari, menemukan dan memecahkan masalahnya sendiri. Ia tidak hanya menyuapi murid, juga tidak seperti orang yang menuangkan air ke dalam ember.
Keaktifan guru juga dituntut, agar pembelajaran benar-benar aktif. Dalam hal ini, keaktifan guru dapat dilihat pada kegiatan antara lain:
1)      memberikan umpan balik,
2)      mengajukan pertanyaan yang menantang,  dan
3)      mendiskusikan gagasan siswa.
Di sisi lain, keaktifan siswa sebagai pembelajar dalam proses pembelajaran agar memperoleh input yang berupa pengetahuan dan pengalaman belajar dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam hal:
1)        bertanya atau meminta penjelasan,
2)         menanggapi dan memberi alasan
3)        mengemukakan gagasan,dan
4)         mendiskusikan gagasan orang lain dan gagasannya sendiri.
Di dalam implementasi pendekatan pembelajaran ini, seorang guru harus merancang dan melaksanakan kegiatan-kegiatan atau strategi-strategi yang memotivasi siswa berperan secara aktif di dalam proses pembelajaran. Mengapa pembelajaran harus mengaktifkan siswa? Hasil penelitian menunjukkan bahwa kita belajar 10% dari yang kita baca, 20% dari yang kita dengar, 30% dari yang kita lihat, 50% dari yang kita lihat dan dengar, 70% dari yang kita ucapkan, dan 90% dari yang kita ucapkan dan kerjakan serta 95% dari apa yang kita ajarkan kepada orang lain (Dryden & Voss, 2000). Artinya belajar paling efektif jika dilakukan secara aktif oleh individu tersebut.
2.         Inovatif
McLeod, mengartikan inovasi sebagai: “something newly introduced such as method or device”.  Berdasarkan pengertian ini, segala aspek (metode, bahan, perangkat dan sebagainya) dipandang baru atau bersifat inovatif apabila metode dan sebagainya itu berbeda atau belum dilaksanakan oleh seorang guru meskipun semua itu bukan barang baru bagi guru lain.
Pembelajaran inovatif  dapat  menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan apabila dilakukan dengan cara mengintegrasikan media atau alat bantu terutama yang berbasis teknologi baru atau maju ke dalam proses pembelajaran tersebut, sehingga terjadi proses renovasi mental, di antaranya membangun rasa pecaya diri siswa. Penggunaan bahan pembelajaran, software multimedia, dan microsoft power point merupakan salah satu alternatif.
3.         Kreatif
Kreatif (creative) berarti menggunakan hasil ciptaan/kreasi baru atau yang berbeda dengan sebelumnya. Pembelajaran yang kreatif mengandung makna tidak sekedar melaksanakan dan menerapkan kurikulum.
Kurikulum memang merupakan dokumen dan rencana baku, namun tetap perlu dikritisi dan dikembangkan secara kreatif. Dengan demikian, ada kreativitas pengembangan kompetensi dan kreativitas dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas termasuk pemanfaatan lingkungan sebagai sumber bahan dan sarana untuk belajar. Pembelajaran kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa dan tipe serta gaya belajar siswa.
Pembelajaran PAIKEM dirancang agar pembelajar mampu mengembangkan kreativitasnya. Guru memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, inisiatif, dan kreativitas serta kemandirian siswa sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologisnya. Kemandirian dan kemampuan pemecahan masalah merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh semua bentuk pembelajaran. Dengan dua bekal itu setiap orang akan mampu belajar sepanjang hidupnya. Ciri seorang pembelajar yang mandiri adalah: (a) mampu secara cermat mendiagnosis situasi pembelajaran tertentu yang sedang dihadapinya; (b) mampu memilih strategi belajar tertentu untuk menyelesaikan masalah belajarnya; (c) memonitor keefektivan strategi tersebut; dan (d) termotivasi untuk terlibat dalam situasi belajar tersebut sampai masalahnya terselesaikan.
4.         Efektif
Pembelajaran dapat dikatakan efektif (effective / berhasil guna) jika mencapai sasaran atau minimal mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Di samping itu, yang juga penting adalah banyaknya pengalaman dan hal baru yang  didapat siswa. Guru pun diharapkan memperoleh pengalaman baru sebagai hasil interaksi dua arah dengan siswanya.
Pendekatan PAIKEM menyiratkan bahwa pembelajaran harus dilakukan sedemikian rupa untuk mencapai semua hasil belajar yang telah dirumuskan. Karena hasil belajar itu beragam, karkteristik efektif dari pembelajaran ini mengacu kepada penggunaan berbagai strategi yang relevan dengan hasil belajarnya. Banyak orang beranggapan bahwa berbagai strategi pembelajaran inovatif termasuk PAIKEM seringkali tidak efisien (memakan waktu) lebih lama dibandingkan dengan pembelajaran tradisional/konvensional. Hal tersebut tentu amat mudah dipahami, dalam pembelajaran PAIKEM banyak hasil belajar yang dicapai sehingga memerlukan waktu yang lama, sementara pada pembelajaran tradisional hasil belajar yang dicapai hanya pada tataran kognitif saja.
Untuk mengetahui keefektifan sebuah proses pembelajaran, maka pada setiap akhir pembelajaran perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi yang dimaksud di sini bukan sekedar tes untuk siswa, tetapi semacam refleksi, perenungan yang dilakukan oleh guru dan siswa, serta didukung oleh data catatan guru. Hal ini sejalan dengan kebijakan penilian berbasis kelas atau penilaian authentic yang lebih menekankan pada penilaian proses selain penilaian hasil belajar.


5.         Menyenangkan
Pembelajaran yang dilaksanakan haruslah dilakukan dengan tetap memperhatikan suasana belajar yang menyenangkan. Mengapa pembelajaran harus menyenangkan? Dryden dan Voss (2000) mengatakan bahwa belajar akan efektif jika suasana pembelajarannya menyenangkan. Seseorang yang secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya memerlukan dukungan suasana dan fasilitas belajar yang maksimal. Suasana yang menyenangkan dan tidak diikuti suasana tegang sangat baik untuk membangkitkan motivasi untuk belajar. Anak-anak pada dasarnya belajar paling efektif pada saat mereka sedang bermain atau melakukan sesuatu yang mengasyikkan. Menurut penelitian, anak-anak menjadi berminat untuk belajar jika topik yang dibahas sedapat mungkin dihubungkan dengan pengalaman mereka dan disesuaikan dengan alam berpikir mereka. Yang dimaksudkan adalah bahwa pokok bahasannya dikaitkan dengan pengalaman siswa sehari-hari dan disesuaikan dengan dunia mereka dan bukan dunia guru sebagai orang dewasa. Apa lagi jika disesuaikan dengan kebiasaan mereka dalam belajar. Ciri yang terakhir ini merupakan ciri pembelajaran kontekstual. Dengan demikian pembelajaran PAIKEM sebenarnya juga pembelajaran kontekstual.
Pembelajaran yang menyenangkan (joyful) perlu dipahami secara luas, bukan hanya berarti selalu diselingi dengan lelucon, banyak bernyanyi atau tepuk tangan yang meriah. Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang dapat dinikmati siswa. Siswa merasa nyaman, aman dan asyik. Perasaan yang mengasyikkan mengandung unsur inner motivation, yaitu dorongan keingintahuan yang disertai upaya mencari tahu sesuatu.
Selain itu pembelajaran perlu memberikan tantangan kepada siswa untuk berpikir, mencoba dan belajar lebih lanjut, penuh dengan percaya diri dan mandiri untuk mengembangkan  potensi diri secara optimal. Dengan demikian, diharapkan kelak siswa menjadi manusia yang berkarakter penuh percaya diri, menjadi dirinya sendiri dan mempunyai kemampuan yang kompetitif (berdaya saing).
Adapun ciri-ciri pokok pembelajaran yang menyenangkan, ialah:
1)             adanya lingkungan yang rileks, menyenangkan, tidak membuat tegang (stress), aman, menarik, dan tidak membuat siswa ragu melakukan sesuatu meskipun keliru untuk mencapai keberhasilan yang tinggi,
2)              terjaminnya ketersediaan materi pelajaran dan metode yang relevan,
3)              terlibatnya semua indera dan aktivitas otak kiri dan kanan,
4)             adanya situasi belajar yang menantang (challenging) bagi peserta didik untuk berpikir jauh  ke depan dan mengeksplorasi materi yang sedang dipelajari, dan
5)             adanya situasi belajar emosional yang positif ketika para siswa belajar bersama, dan ketika ada humor, dorongan semangat, waktu istirahat, dan dukungan yang enthusiast.
UPPL (2012) menjelaskan bahwa kesenangan siswa dalam pembelajaran dapat didukung melalui:
1)             Lingkungan belajar yang menyenangkan,
2)             Media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa,
3)             Pendekatan pembelajaran yang sesuai,
4)             Sumber belajar yang bervariasi, dan
5)             Bermain edukatif sebagai salah satu cara menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.
Tujuan akhir yang diharapkan dari diterapkannya pembelajaran matematika dengan pendekatan PAIKEM ini adalah terciptanya kecakapan dan kemahiran dalam  matematika yang berwujud kemampuan berfikir matematik tingkat tinggi. Kemampuan berfikir matematika tingkat tinggi meliputi:
a.              Pemahaman Matematika (Mathematical Understanding) meliputi kemampuan menerapkan konsep matematika pada situasi yang cocok disertai alasan; mengidentifikasi  dan memberi contoh atau bukan contoh dari konsep matematika.
b.             Pemecahan Masalah Matematika  (Mathematical  Problem Solving) yaitu kemampuan menyelesaikan masalah non rutin melalui tahap-tahap : memahami masalah, memilih strategi penyelesaian, melaksanakan strategi, dan memeriksa kebenaran hasil.
c.              Komunikasi Matematika (Mathematical Communication) yaitu Kemampuan menyatakan , mendemonstrasikan, dan menafsirkan gagasan atau ide matematik dari suatu uraian ke dalam model matematika (grafik, diagram, tabel, dan persamaan) atau sebaliknya.
d.             Koneksi  Matematika (Mathematical Connection) yaitu Kemampuan memahami hubungan antar topik matematika, mencari hubungan berbagai representasi konsep, serta menggunakan matematika pada bidang lain atau kehidupan sehari-hari.
e.              Penalaran Matematika (Mathematical Reasoning) yaitu Kemampuan menarik kesimpulan logik. Kemampuan menarik kesimpulan secara logik meliputi 2 hal yaitu analogi dan generalisasi. Analogi merupakan kemampuan menarik kesimpulan berdasarkan keserupaan dua kasus sedangkan generalisasi adalah kemampuan menarik kesimpulan umum berdasarkan data atau fakta yang diberikan.
Berdasarkan karakteristik pendekatan PAIKEM yang telah dipaparkan, implementasi pendekatan pembelajaran ini sangat perlu diterapkan untuk siswa SMP dalam pembelajaran matematika khususnya mengenai pemecahan masalah berupa soal cerita pada materi SPLDV. Hal ini tentunya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam meneyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan SPLDV.
Dengan diterapkannya pendekatan pembelajaran ini, diharapkan tercipta proses pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Dengan demikian, minat siswa terhadap pembelajaran matematika akan meningkat. Sehingga pada akhirnya matematika bukan lagi hal yang menakutkan dalam benak siswa.
B.   Strategi Penyelesaian Soal Cerita
Soal cerita adalah suatu soal yang penyelesaiannya memerlukan suatu kaidah atau aturan tertentu yang telah disepakati bersama. Soal cerita ini merupakan masalah matematika yang disajikan dalam bentuk cerita dan bertalian dengan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari (Hudoyo,1988:157).
Untuk mengatasi permasalahan kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita, seorang guru hendaknya harus berusaha agar siswanya mengetahui dan memahami bagaimana langkah–langkah yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Dalam melakukan hal ini, tindakan guru hendaknya tetap berpedoman pada pendekatan PAIKEM, dalam artian tetap mengutamakan siswa sebagai pusat pembelajaran.
Untuk memiliki kemampuan menyelesaikan suatu soal cerita sangat diperlukan pengetahuan prasyarat termasuk menguasai langkah–langkah menyelesaikan masalah/soal cerita tersebut. Salah satu strategi yang dapat diterapkan dalam menyelesaikan soal cerita adalah strategi pemecahan masalah menurut Polya. Menurut Polya (Aisyah, 2007: 5-20) pemecahan masalah dalam matematika terdiri atas empat langkah pokok, sebagai berikut:
a.       Memahami Masalah
Pada langkah ini, kegiatan pemecahan masalah diarahkan untuk membantu siswa menetapkan apa yang diketahui pada permasalahan dan apa yang ditanyakan. Ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu siswa dalam mengidentifikasi unsur yang diketahui dan yang ditanyakan dalam soal diantaranya sebagai berikut:
1)        apakah yang diketahui dari soal,
2)        apakah yang ditanyakan soal,
3)        apakah saja informasi yang diperlukan,
4)        bagaimana akan menyalesaikan soal.  
Berdasarkan pertanyaan–pertanyaan di atas diharapkan siswa dapat lebih mudah mengidentifikasi unsur yang diketahui dan yang ditanyakan soal. Dalam hal ini strategi mengidentifikasi informasi yang diinginkan, diberikan, dan diperlukan akan sangat membantu siswa melaksanakan tahap ini.
Dalam rangka membantu  siswa memahami masalah, guru sebagai fasilitator dapat memakai berbagai media pembelajaran yang dapat membuat proses pembelajaran menarik bagi siswa. Misalnya dengan memakai berbagai software multimedia, misalnya dengan Microsoft power point. Guru dapat menyajikan berbagai gambar-gambar yang dapat memperjelas maksud dari soal tersebut. Guru dituntut untuk mengembangkan kreativitasnya untuk menciptakan sutau pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, dengan mnerapkan berbagai inovasi terbaru yang bisa diterapkan dalam rangka mencapai pembelajaran yang efektif. Hal ini tidak lain merupakan penerapan dari PAIKEM.


b.      Membuat Rencana Untuk Menyelesaikan Masalah
Pendekatan pemecahan masalah tidak akan berhasil tanpa perencanaan yang baik. Adapun tujuan dari perencanaan pemecahan masalah ini adalah agar siswa dapat mengidentifikasi strategi–strategi pemecahan masalah yang sesuai untuk menyelesaikan masalah yang sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan.
Pada langkah ini guru dapat menerapkan metode diskusi dengan siswa untuk menemukan bagaimana rencana untuk penyelesaian masalah tersebut. Guru hendaknya menggali berbagai ide dari setiap siswa , berusaha agar siswa dapat mengembangkan gagasan yang mereka miliki dan menyempurnakan gagasan tersebut hingga ditemukan strategi yang tepat untuk menyelesaika permasalahan tersebut.
c.        Melaksanakan Penyelesaian Soal
Jika siswa telah memahami permasalahan dengan baik dan sudah menentukan strategi pemecahannya, Langkah selanjutnya adalah melaksanakan penyelesaian soal sesuai dengan yang telah direncanakan. Kemampuan siswa memahami subtansi materi dan keterampilan siswa melakukan perhitungan – perhitungan matematika akan sangat membantu siswa untuk melaksanakan penyelesaian soal cerita.
d.      Memeriksa Ulang Jawaban yang Diperoleh
Langkah memeriksa ulang jawaban yang diperoleh merupakan langkah terakhir dari pendekatan pemecahan masalah matematika (Aisyah, 2007: 5-22). Adapun tujuan dari langkah ini adalah untuk mengecek apakah hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan ketentuan dan tidak terjadi kontrakdisi dengan yang ditanya.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk memeriksa ulang jawaban yang diperoleh adalah :  
1)        Mencocokan hasil yang diperoleh dengan hal yang ditanyakan.
2)        Menginterpretasi jawaban yang diperoleh.
3)        Mengidentifikasi adakah cara lain untuk mendapatkan penyelesaian masalah.
4)        Mengidentifikasi jawaban atau hasil lain yang memenuhi.
Keempat langkah pokok yang dikemukakan Polya merupakan prosedur yang harus diikuti dalam setiap pemecahan masalah (termasuk soal cerita) matematika.
Tim matematika Depdikbud (1993: 134) mengungkapkan bahwa setiap masalah/soal cerita dapat diselesaikan dengan rencana sebagai berikut :
1)        membaca soal itu dan memikirkan hubungan antara bilangan– bilangan yang ada dalam soal tersebut;
2)        menulis kalimat matematika yang menyatakan hubungan–hubungan itu dalam bentuk operasi–operasi bilangan;
3)        menyelesaikan kalimat matematika tersebut. Artinya mencari bilangan – bilangan mana yang membuat kalimat matematika itu benar;
4)        menggunakan penyelesaian itu untuk menjawab pertanyaan yang dikemukakan dalam soal;
Sejalan dengan langkah–langkah yang dikemukakan di atas, Soedjadi (1992) mengemukakan bahwa untuk menyelesaikan soal matematika umumnya dan terutama soal cerita dapat ditempuh langkah–langkah sebagai berikut:
1)        membaca soal dengan cermat untuk menangkap makna tiap kalimat,
2)        memisahkan dan mengungkapkan apa yang diketahui dalam soal, apa yang diminta/ditanyakan dalam soal, operasi pengerjaan apa yang diperlukan,
3)        membuat model matematika dari soal,
4)        menyelesaikan model menurut aturan–aturan matematika, sehingga mendapatkan jawaban dari model tersebut,
5)        mengembalikan jawaban soal kepada jawaban asal.

Selain itu, faktor kurangnya kemampuan verbal juga merupakan salah satu penyebab kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Untuk mengatasi hal ini guru dapat mengambil tindakan dengan membekali siswa dengan konsep dasar yang dipahami secara utuh oleh siswa, membiasakan siswa agar terlatih untuk membaca secara cermat. Untuk meningkatakan kemampuan verbal tersebut juga bisa diatasi dengan cara membekali siswa dengan berbagai istilah yang sering digunakan dalam soal cerita matematika.
Banyak latihan dengan berbagai variasi soal juga dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Dengan pengalaman berupa latihan soal bersama sesering mungkin mengakibatkan siswa akan terbiasa dengan bahasa yang digunakan dalam soal cerita matematika. Pemahaman mengenai bahasa dalam soal cerita dapat diperoleh siswa melalui diskusi yang dibimbing oleh guru. Guru dapat melontarkan berbagai pertanyaan kepada siswa terkait soal yang diberikan dengan tujuan untuk mengetahui makna dari soal tersebut. Penggunaan berbagai sarana belajar seperti Microsoft power pont  juga akan mempermudah siswa dalam memahami makna dari soal cerita. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, misalnya dengan memakai media gambar  yang dicantumkan dalam soft file Microsoft power point sebagai sarana belajar. Dengan banyak latihan dan disertai sarana penunjang belajar diharapkan dapat meningkatkan kemampuan verbal siswa dalam memahami makna soal cerita matematika.





















BAB III PENUTUP
A.          Kesimpulan
Berdasarkan pendahuluan dan pembahasan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
1.             Kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal cerita disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kurangnya kemampuan verbal, kurangnya pemahaman terhadap materi prasyarat, kebiasaan siswa tidak mengembalikan jawaban model menjadi jawaban permasalahan, kurangnya minat siswa terhadap pelajaran matematika, strategi/metode pembelajaran yang kurang tepat.
2.             Pendekatan PAIKEM dapat diterapkan sebagai solusi untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita.
3.             Strategi penyelesaian masalah menurut Polya dapat diperkenalkan kepada siswa untuk mempermudah siswa dalam menyelesaikan soal cerita.
B.          Saran
1.             Guru hendaknya menggerakkan dirinya sendiri untuk mengembangkan kreatifitasnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa.
2.             Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita baik yang berkaitan dengan SPLDV ataupun materi lainnya dalam matematika, guru dapat menggunakan pendekatan PAIKEM dengan  strategi Polya.








DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar